Saturday, December 31, 2011

Allah is Great!! you can't go until he want you to go.. AMAZING!.

Wednesday, December 28, 2011

PRINSIP-PRINSIP ORGANISASI


1) Organisasi Harus Mempunyai Tujuan yang Jelas.
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dengan demikian tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan. Misalnya, organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas sebagai suatu organisasi, mempunyai tujuan yang ingin dicapai antara lain, memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan lain lain.

2) Prinsip Skala Hirarkhi.
Dalam suatu organisasi harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehingga dapat mempertegas dalam pendelegasian wewenang dan pertanggungjawaban, dan akan menunjang efektivitas jalannya organisasi secara keseluruhan.

3) Prinsip Kesatuan Perintah.
Dalam hal ini, seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab kepada seorang atasan saja.

4) Prinsip Pendelegasian Wewenang.
Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada bawahannya. Pejabat yang diberi wewenang harus dapat menjamin tercapainya hasil yang diharapkan. Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan meliputi kewenangan dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain, dan mengadakan tindakan tanpa minta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya lagi.

5) Prinsip Pertanggungjawaban.
Dalam menjalankan tugasnya setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan.

6) Prinsip Pembagian Pekerjaan.
Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya, melakukan berbagai aktivitas atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut dapat berjalan optimal maka dilakukan pembagian tugas/pekerjaan yang didasarkan kepada kemampuan dan keahlian dari masing-masing pegawai. Adanya kejelasan dalam pembagian tugas, akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggungjawaban, serta menunjang efektivitas jalannya organisasi.

7) Prinsip Rentang Pengendalian.
Artinya bahwa jumlah bawahan atau staf yang harus dikendalikan oleh seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Rentang kendali ini sesuai dengan bentuk dan tipe organisasi, semakin besar suatu organisasi dengan jumlah pegawai yang cukup banyak, semakin kompleks rentang pengendaliannya.

8) Prinsip Fungsional.
Bahwa seorang pegawai dalam suatu organisasi secara fungsional harus jelas tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja, serta tanggung jawab dari pekerjaannya.

9) Prinsip Pemisahan.
Bahwa beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan tanggung jawabnya kepada orang lain.

10) Prinsip Keseimbangan.
Keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dengan tujuan organisasi. Dalam hal ini, penyusunan struktur organisasi harus sesuai dengan tujuan dari organisasi tersebut. Tujuan organisasi tersebut akan diwujudkan melalui aktivitas/ kegiatan yang akan dilakukan. Organisasi yang aktivitasnya sederhana (tidak kompleks) contoh ‘koperasi di suatu desa terpencil’, struktur organisasinya akan berbeda dengan organisasi koperasi yang ada di kota besar seperti di Jakarta, Bandung, atau Surabaya.

11) Prinsip Fleksibilitas
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor) dan juga karena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya.

12) Prinsip Kepemimpinan.
Dalam organisasi apapun bentuknya diperlukan adanya kepemimpinan, atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakan oleh pemimpin organisasi tersebut.

Monday, December 19, 2011

Pohon Pisang


Pohon pisang tak mau mati sebelum berbuah. Ia ingin kehadirannya di atas dunia ini bisa memberi manfaat sebelum ajal datang menjemput.
Tak sekadar itu, pohon pisang telah mempersiapkan generasi penerusnya sebelum ia mati. Tunas-tunas muda inilah yang akan meneruskan tugasnya memberi kebaikan kepada sesiapa yang memetik buahnya, atau mengambil daunnya atau memanfaatkan batangnya.
Itulah pisang.
Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal seharusnya bisa berbuat lebih dari sekadar batang pisang…
***
Belajar pada karakter tiap ciptaan Allah, selalu dapat dipetik hikmah untuk kita teladani.
Manusia diciptakan Allah dengan dibekali piranti akal untuk membedakan yang baik dengan yang tidak, atau untuk memilih jalan kebenaran dengan sebaliknya. Tentunya bila menginginkan kebaikan di dunia dan akhirat setiap diri akan berusaha keras untuk menapaki jalan kebenaran.
Berupaya menaati rambu-rambu yang Dia jadikan petunjuk untuk keselamatan kita, serta akan senantiasa berjuang mengumpulkan bekal dengan sebaik-baik amal untuk meraih ridha-Nya. Dan, satu diantara banyak bekal yang harus dipersiapkan itu yakni mempersiapkan generasi yang akan meneruskan apa yang telah kita rintis tersebut.
Perumpamaan yang dituliskan sahabat tentang kehidupan pohon pisang itu membuatku teringat akan seseorang yang kulihat sosoknya beberapa waktu lalu di layar televisi. Akan kuceritakan sebagian kisahnya di sini yang membuatku haru sekaligus malu, kuharap akan menjadi sebuah motivasi untuk kita agar bisa mempersiapkan diri sebagaimana yang dilakukan pohon pisang.
Ia seorang gadis berusia 13 tahun, sebutlah namanya Caroline. Terlahir dengan kondisi lumpuh sebagian tubuhnya.
Beruntung sekali Caroline, tumbuh dan dibesarkan oleh ayah dan ibu yang penuh rasa sayang dan selalu meniupkan semangat sehingga Caoline tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan merasa seperti anak-anak lainnya yang dikaruniai fisik normal.
Keterbatasan jasadi yang disandangnya tak mampu menyurutkan semangatnya. Setiap hari Caroline berlatih untuk bisa berjalan dengan bantuan tongkat ditemani orangtuanya.
Saat yang paling menyenangkan bagi Caroline adalah saat pikirannya tenggelam dalam buku-buku yang dibacanya. Ya, Caroline seorang pecinta buku. Uniknya, saat semua buku di rumahnya telah tamat dibaca, ia akan berusaha untuk mendapatkan lagi buku-buku baru.
Sebagian besar buku-buku barunya itu ia peroleh bukan dengan 'merogoh saku' orangtuanya. Namun ia mengusahakannya dengan caranya sendiri. Ditemani kursi roda dan ibunya, ia mengetuk dari pintu ke pintu setiap rumah di kota tempat ia tinggal, terkadang ia meninggalkan sepucuk surat agar yang punya rumah sudi berbagi sebagian buku yang mereka miliki. Walhasil dari usahanya itu, banyak hati yang tersentuh. Seiring waktu berjalan, tak terasa ia telah mengoleksi kurang lebih empat ribu buku.
Caroline, gadis belia yang suka membaca ini pun bingung karena rumahnya tak dapat lagi menampung buku hasil usahanya itu. Karenanya ia pun memimpikan suatu saat nanti ia dapat mendirikan sebuah perpustakaan untuk menyimpan semua koleksi bukunya agar dapat dinikmati warga di kotanya.
Ia ingin keberadaan perpustakaan di tempat tinggalnya, membuat warga menjadi pecinta buku. Ia pun mendambakan sebuah ruang dimana ia bisa mendongeng, membacakan buku, mengajar baca serta menumbuhkan minat supaya cinta membaca pada anak-anak yang belum bisa baca.
Apa ya kira-kira yang dapat dilakukan gadis kecil dengan keterbatasannya itu? Dapatkah ia mewujudkan impiannya tersebut?
Sebuah pepatah arab ‘Man jadda wajada‘ sepertinya berlaku dalam hidup Caroline. Ia bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi itu.
Tentu Allah akan selalu menyertai orang-orang yang memiliki niat baik dan bersungguh-sungguh mewujudkannya. Caroline pun mendapat petunjuk-Nya.
Di negara tempat Caroline tinggal, ada stasiun televisi yang menyelenggarakan sebuah program untuk membantu setiap orang mewujudkan impiannya dengan cara mengirimkan surat berisi impiannya itu atau mendatangi tenda yang telah disediakan pemrakarsa. Dan, Caroline tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia datangi tenda impian itu.
Kuasa Allah menjawab harapan dan kesungguhan Caroline. Ia terpilih oleh tim yang menyeleksi impian mana yang layak dibantu untuk diwujudkan dari sekian ribu surat impian juga sekian banyak orang yang mendatangi tenda tersebut.
Tim penyeleksi memilihnya bukan karena iba akan kondisi fisik Caroline, akan tetapi hanya karena impian Caroline yang luar biasa. Para juri penyeleksi terkesan akan cara berpikir anak tersebut yang memandang jauh ke depan dan berorientasi akan kemanfaatan pada sekitar.
Di saat anak-anak sebelia Caroline mengungkapkan impian untuk bertemu aktor-aktris idola, bertemu bintang olahraga atau bermimpi mengejar kesenangan-kesenangan yang sifatnya hanya untuk diri pribadi, impian Caroline mencuat bagai mutiara menyembul dari balik lumpur.
Impian gadis kecil itu pun terwujud, warga terutama anak-anak seusianya menyerbu perpustakaan yang telah berdiri di kotanya dengan bantuan tim tersebut. Mereka tampak bahagia, sebagaimana Caroline sangat bahagia impiannya tercapai.
Keinginan sekaligus impiannya untuk menjadi orang yang bisa memberi manfaat sebelum ajal datang menjemput serta upayanya menyiapkan generasi yang akan melanjutkan kecintaannya pada buku membuat Caroline (mungkin tanpa disadarinya) telah menjalankan filosofi pohon pisang itu.
Setiap kita tentunya paham, dalam buku tertuang banyak ilmu yang dapat membuka wawasan dan cara pandang serta meluaskan cakrawala pemikiran yang bisa menuntun tiap orang untuk menguak tabir rahasia ilmu-Nya. Berarti dengan demikian Caroline telah berupaya mewariskan suatu kebiasaan baik pada masyarakat sekitarnya.
Lalu, bagaimana dengan kita? kita yang terlahir dan beridentitas sebagai muslim yang mana telah sampai pengetahuan pada kita dari lisan Nabi terkasih Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusi lainnya (HR.Thabrani dan Daruquthni).
Apa yang telah kita perbuat untuk mengukir jejak kebaikan yang dapat dilanjutkan oleh anak keturunan kita atau siapa pun pada generasi setelah kita?
Hati kita pantas dijalari rasa malu pada pohon pisang bila ternyata kita masih berkutat pada kesibukan yang hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.
Dan, adanya satu atau banyak orang semodel Caroline yang memiliki asa mulia di tengah keterbatasan kondisi fisiknya, tentu bukanlah tanpa makna untuk kita. Allah pasti memiliki tujuan agar kita bisa belajar darinya.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/ineu-antara-pohon-pisang-caroline-dan-kita.htm 

Sunday, December 11, 2011

Hierarchy of Needs


Hierarki Teori Kebutuhan
Teori motivasi yang paling terkenal adalah  hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam diri setiap manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah:
1.      Fisiologis : Meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya. 
2.      Rasa aman : Meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional 
3.      Sosial : Meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan.
4.      Penghargaan : Meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri, otonomi, dan pencapaian,  
       sedangkan untuk faktor eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian. 
5.      Aktualisasi diri : Dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya; meliputi pertumbuhan,
      pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri.
Sumber : http://books.google.co.id/books?id=IwrWupB1rC4C&lpg=PA223&dq=teori%20motivasi&hl=id&pg=PA227#v=onepage&q&f=true

Resiliensi


Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. (Reivich dan Shatté,2002. Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda dan hampir tidak ada satupun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik
Kemampuan ini terdiri dari:
1.      Regulasi emosi
Menurut Reivich dan Shatté (2002) regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan. Individu yang memiliki kemampuan meregulasi emosi dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi rasa cemas, sedih, atau marah sehingga mempercepat dalam pemecahan suatu masalah. Pengekspresian emosi, baik negatif ataupun positif, merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat. Pengekpresian emosi yang tepat menurut Reivich dan Shatté (2002) merupakan salah satu kemampuan individu yang resilien. Reivich dan Shatté (2002) mengemukakan dua hal penting yang terkait dengan regulasi emosi, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua keterampilan ini, dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stress.
2.      Pengendalian impuls
Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan pengendalian impuls sebagai kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Individu dengan pengendalian impuls rendah sering mengalami perubahan emosi dengan cepat yang cenderung mengendalikan perilaku dan pikiran mereka. Individu seperti itu seringkali mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga lingkungan sosial di sekitarnya merasa kurang nyaman yang berakibat pada munculnya permasalahan dalam hubungan sosial.
3.      Optimisme
Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka memiliki harapan di masa depan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah hidupnya. Dalam penelitian yang dilakukan, jika dibandingkan dengan individu yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik, dan lebih jarang mengalami depresi, lebih baik di sekolah, lebih produktif dalam kerja, dan lebih banyak menang dalam olahraga (Reivich & Shatté, 2002). Optimisme mengimplikasikan bahwa individu percaya bahwa ia dapat menangani masalah-masalah yang muncul di masa yang akan datang (Reivich & Shatté, 2002).
4.      Empati
Empati merepresentasikan bahwa individu mampu membaca tanda-tanda psikologis dan emosi dari orang lain. Empati mencerminkan seberapa baik individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain (Reivich & Shatté, 2002). Selain itu, Werner dan Smith (dalam Lewis, 1996) menambahkan bahwa individu yang berempati mampu mendengarkan dan memahami orang lain sehingga ia pun mendatangkan reaksi positif dari lingkungan. Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif (Reivich & Shatté, 2002).
5.      Analisis penyebab masalah
Menurut Seligman (dalam Reivich & Shatté, 2002) mengungkapkan sebuah konsep yang berhubungan erat dengan analisis penyebab masalah yaitu gaya berpikir. Gaya berpikir adalah cara yang biasa digunakan individu untuk menjelaskan sesuatu hal yang baik dan buruk yang terjadi pada dirinya.
Gaya berpikir dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu:
1)      Personal (saya-bukan saya)
Individu dengan gaya berpikir ‘saya’ adalah individu yang cenderung menyalahkan diri sendiri atas hal yang tidak berjalan semestinya. Sebaliknya, Individu dengan gaya berpikir ‘bukan saya’, meyakini penjelasan eksternal (di luar diri) atas kesalahan yang terjadi.
2)      Permanen (selalu-tidak selalu)
Individu yang pesimis cenderung berasumsi bahwa suatu kegagalan atau kejadian buruk akan terus berlangsung. Sedangkan individu yang. optimis cenderung berpikir bahwa ia dapat melakukan suatu hal lebih baik pada setiap kesempatan dan memandang kegagalan sebagai ketidakberhasilan sementara.
3)      Pervasive (semua-tidak semua)
Individu dengan gaya berpikir ‘semua’, melihat kemunduran atau kegagalan pada satu area kehidupan ikut menggagalkan area kehidupan lainnya. Individu dengan gaya berpikir‘tidak semua’, dapat menjelaskan secara rinci penyebab dari masalah yang ia hadapi. Individu yang paling resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas kognisi dan dapat mengidentifikasi seluruh penyebab yang signifikan dalam permasalahan yang mereka hadapi tanpa terperangkap dalam explanatory style tertentu.
6.      Efikasi diri
Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.
7.      Peningkatan aspek positif
Menurut Reivich dan Shatté (2002), resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Individu yang meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. Individu yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi (Reivich dan Shatte, 2002)
sumber :
http://books.google.co.id/books?id=fYLEGIKrtNYC&pg=PA60&dq=RESILIENSI&hl=id&ei=nLvjTqqXB4HorQfAhtieCA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CDUQ6AEwAg#v=onepage&q=RESILIENSI&f=false
http://id.wikipedia.org/wiki/Resiliensi

Thursday, December 8, 2011

EMOTIONAL INTELLIGENCE


 I. Pengertian Teori Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman
Beberapa tokoh mengemukakan tentang teori kecerdasan emosional antara lain, Mayer & Salovey dan Daniel Goleman. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai, “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”. Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Daniel Goleman mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.
II. Lima Dasar Kemampuan dalam Teori Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman
a. Mengenali Emosi Diri (Self-Awareness)
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri membuat kita lebih waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.
b. Mengelola Emosi (Self-Management)
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita . Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
c. Memotivasi Diri Sendiri (Self-Motivation)
Meraih Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.
d. Mengenali Emosi Orang Lain (Social-Awareness)
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
e. Membina Hubungan (Realitonship-Management)
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar sesama. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Terkadang manusia sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

III. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi
a. Faktor Internal.
Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir dan motivasi.
b. Faktor Eksternal.
Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan.
IV. Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional
1. Membaca situasi
Dengan memperhatikan situasi sekitar, kita akan mengetahui apa yang harus dilakukan.
2. Mendengarkan dan menyimak lawan bicara
Dengarkan dan simak pembicaraan dan maksud dari lawan bicara, agar tidak terjadi salah paham serta dapat menjaga hubungan baik.
3. Siap berkomunikasi
Jika terjadi suatu masalah, bicarakanlah agar tidak terjadi salah paham.
4 . Tak usah takut ditolak
Setiap usaha terdapat dua kemungkinan, diterima atau ditolak, jadi siapkan diri dan jangan takut ditolak.
5. Mencoba berempati
EQ tinggi biasanya didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau bisa mengerti
situasi yang dihadapi orang lain.
6. Pandai memilih prioritas
Ini perlu agar bisa memilih pekerjaan apa yang mendesak, dan apa yang bisa
ditunda.
7. Siap mental
Situasi apa pun yang akan dihadapi, kita harus menyiapkan mental sebelumnya.
8. Ungkapkan lewat kata-kata
Katakan maksud dan keinginan dengan jelas dan baik, agar dapat saling mengerti.
9. Bersikap rasional
Kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan, namun tetap berpikir rasional.
10. Fokus
Konsentrasikan diri pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan
memaksa diri melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan.